Luka Boleh Ada, Kasih Tetap Dibagi: Penyuluh Katolik Dampingi Klien Bapas Menemukan Harapan

Yogyakarta (Garakat) — Setiap orang memiliki perjalanan hidup, termasuk mereka yang pernah menghadapi persoalan dan harus menjalani proses pembimbingan. Di tengah perjalanan itu, harapan tetap bisa tumbuh, dan kasih tetap dapat dibagikan. Semangat inilah yang mewarnai pembinaan iman bagi klien Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Yogyakarta di Kompleks Peziarahan Salib Suci Gunung Sempu, Jumat (9/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–12.00 WIB ini merupakan kolaborasi Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta, Bapas Kelas I Yogyakarta, dan Komunitas Doa Saint Paul Volunteer (SPV) Gereja Stasi Salib Suci Gunung Sempu. Pembinaan ini menjadi ruang untuk meneguhkan iman, menumbuhkan kesadaran diri, sekaligus memperkuat dukungan sosial bagi para klien.
Suasana pembinaan berlangsung santai, tetapi sarat makna. Petrus Gara Hendratmoko, aktivis Community Building, memandu renungan yang mengajak peserta melihat kehidupan dari sudut pandang yang lebih luas. Dalam keadaan berkecukupan maupun berkekurangan, setiap orang tetap memiliki kesempatan untuk berbagi rahmat dan menghadirkan kebaikan bagi sesama.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keterbatasan dan pengalaman pahit tidak harus menghalangi seseorang untuk berbuat baik. Setiap pribadi tetap memiliki nilai, kesempatan untuk bertumbuh, dan peluang untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Ibadat Sabda yang dipimpin Kristoforus Moses Jamwav, S.E., Penyuluh Agama Katolik Kemenag Kota Yogyakarta sekaligus prodiakon Gereja Hati Kudus Yesus, Paroki Pugeran Yogyakarta.
Mengangkat tema “Hidup Itu Indah: Luka Boleh Ada Namun Kasih Tetap Harus Dibagi,” ibadat ini mendasarkan permenungan pada Injil Lukas 11:15–26, bacaan harian Jumat (9/10/2026). Melalui firman Tuhan, peserta diajak merefleksikan pentingnya menjaga hati, memperkuat iman, dan tetap menghadirkan kasih dalam kehidupan sehari-hari, apa pun pengalaman yang pernah dilalui.
Sebanyak lima orang klien Bapas mengikuti pembinaan tersebut bersama para penyuluh agama, anggota Pokmas Lipas, komunitas Saint Paul Volunteer, serta pejabat dan pegawai Bapas Kelas I Yogyakarta. Penyuluh Agama Katolik yang hadir meliputi FM Padhari Djati Martiwi, S.H., Edelbertus Jara, S.Fil., Arnoldus Suluh Dwichandra, S.S., dan Kristoforus Moses Jamwav, S.E. Kegiatan ini juga melibatkan Penyuluh Agama Kristen Kemenag Kota Yogyakarta.
Kebersamaan semakin terasa saat seluruh peserta menutup kegiatan dengan santap siang bersama. Momen sederhana tersebut menjadi kesempatan untuk membangun keakraban, mempererat persaudaraan, dan menumbuhkan rasa diterima tanpa sekat.
Melalui kegiatan ini, Penyuluh Agama Katolik Kemenag Kota Yogyakarta menegaskan peran pembinaan keagamaan yang tidak berhenti pada penyampaian ajaran, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan. Pendampingan iman diharapkan mampu menguatkan batin, menumbuhkan semangat memperbaiki diri, serta membangun lingkungan sosial yang mendukung proses pembimbingan dan reintegrasi klien ke tengah masyarakat.
Sebab, masa lalu bukan satu-satunya penentu masa depan. Selama masih ada kemauan untuk bertumbuh dan kesempatan untuk berbagi kasih, harapan akan selalu menemukan jalannya.[utha]



