KUA Jetis Dukung Saparan Cokrodiningratan, Perkuat Kerukunan dan Moderasi Beragama

Yogyakarta — Kantor Urusan Agama (KUA) Kemantren Jetis Kota Yogyakarta turut mendukung pelaksanaan Upacara Adat dan Kirab Budaya Saparan masyarakat Cokrodiningratan, Ahad (9/8/2026). Kegiatan yang berlangsung di lapangan parkir Gondolayu lor, Kampung Cokrokusuman, Cokrodiningratan , Jetis, Kota Yogyakarta tersebut menjadi momentum untuk melestarikan budaya lokal sekaligus memperkuat kerukunan dan moderasi beragama.
Kegiatan Saparan diikuti masyarakat bersama berbagai unsur lintas sektor. Kepala KUA Jetis, Muhammad Fauzan Fatkhulloh, S.H.I., turut hadir dalam kegiatan tersebut. Sementara itu, Penyuluh Agama KUA Jetis, Dwi Muryanto, S.P., dipercaya sebagai ketua panitia.
Rangkaian kegiatan berlangsung dalam suasana guyub dan penuh kebersamaan. Acara meliputi upacara adat, kirab budaya, sambutan Lurah Cokrodiningratan, doa bersama, serta berbagai kegiatan kemasyarakatan.
Lurah Cokrodiningratan, Muhammad Roman Feiruz, turut memberikan sambutan dalam kegiatan tersebut. Kehadiran berbagai unsur masyarakat dan lintas sektor menunjukkan kuatnya semangat gotong royong dalam menjaga tradisi sekaligus membangun kehidupan masyarakat yang harmonis.
Salah satu bagian yang menjadi ciri khas Saparan adalah penyajian makanan tradisional berupa lemper dan apem. Masyarakat juga menyiapkan gunungan berisi buah-buahan dan sayuran yang kemudian digunakan sebagai sarana sedekah dan dibagikan kepada warga sekitar.
Tradisi tersebut tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga mengandung pesan sosial berupa kepedulian, berbagi, gotong royong, dan mempererat silaturahmi. Warga bersama-sama terlibat dalam persiapan hingga pelaksanaan kegiatan sehingga tercipta suasana kebersamaan dan kekeluargaan.
Kepala KUA Jetis, Muhammad Fauzan Fatkhulloh, menyampaikan bahwa pelestarian budaya lokal dapat menjadi sarana untuk memperkuat nilai-nilai kerukunan di masyarakat.
“Tradisi budaya yang tumbuh di masyarakat dapat menjadi ruang untuk memperkuat silaturahmi, gotong royong, dan kepedulian sosial. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan semangat moderasi beragama, yaitu membangun kehidupan yang rukun, saling menghormati, dan menghargai perbedaan,” ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Dwi Muryanto selaku ketua panitia mengatakan bahwa Saparan menjadi momentum penting untuk mempertemukan masyarakat dalam suasana kebersamaan.
“Saparan bukan hanya tentang melestarikan tradisi, tetapi juga menjadi sarana mempererat persaudaraan. Dengan berkumpul, bergotong royong, dan berbagi, masyarakat dapat semakin kuat dalam menjaga kerukunan,” ungkapnya.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur dan harapan agar masyarakat senantiasa diberikan keselamatan, ketenteraman, serta keberkahan. Kirab budaya menjadi salah satu rangkaian penutup yang menunjukkan semangat masyarakat dalam mempertahankan warisan budaya lokal.
Keterlibatan KUA Jetis bersama pemerintah kelurahan, masyarakat, tokoh masyarakat, dan unsur lintas sektor menjadi wujud kolaborasi dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis. Melalui kegiatan tersebut, nilai budaya dan keagamaan diharapkan dapat berjalan beriringan dalam membentuk masyarakat yang guyub, toleran, dan saling menghargai.
Saparan Cokrodiningratan akhirnya bukan sekadar agenda budaya tahunan, tetapi menjadi ruang bersama untuk merawat tradisi, memperkuat silaturahmi, menumbuhkan kepedulian sosial, serta meneguhkan moderasi beragama di tengah masyarakat.[ismi]


