Kemenag Kota Yogyakarta “Ngangsu Kawruh” Pesantren Ramah Anak

Magelang (Penmad) — Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta terus memperkuat komitmen dalam mengembangkan implementasi pendidikan yang ramah anak, moderat, sekaligus berwawasan lingkungan. Salah satunya dilakukan melalui kunjungan pembelajaran ke Pondok Pesantren Selamat, Dusun Palumbon, Jambewangi, Secang, Magelang, Jawa Tengah, Selasa (11/8/2026).
Kunjungan bertajuk implementasi Madrasah/Pesantren Ramah Anak dan Moderasi Beragama tersebut diikuti seluruh pimpinan dan staf Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) serta Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Kemenag Kota Yogyakarta untuk ngangsu kawruh atau belajar langsung dari praktik baik yang telah dikembangkan Pondok Pesantren Selamat dalam menyelenggarakan pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan kehidupan sosial, kemandirian, kemanusiaan, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Kepala Kantor Kemenag Kota Yogyakarta menyampaikan apresiasinya terhadap suasana dan tata kelola Pondok Pesantren Selamat. Menurutnya, karakter pesantren yang menyatu dengan alam memberikan pengalaman pembelajaran tersendiri sekaligus menunjukkan bagaimana lingkungan dapat menjadi bagian integral dari proses pendidikan.

“Kesan saya, pondok ini begitu asri dan luar biasa. Pesantren alam yang ada di Kota Magelang ini memiliki tata kelola yang mengimplementasikan program-program prioritas Kementerian Agama Republik Indonesia,” ungkapnya.
Menurutnya, kunjungan tersebut tidak semata-mata menjadi agenda kelembagaan, tetapi merupakan ruang untuk melihat secara langsung bagaimana kebijakan dan program prioritas Kementerian Agama dapat diterjemahkan dalam praktik pendidikan di lingkungan pesantren.
Pondok Pesantren Selamat dikenal sebagai sekolah alam dan kemanusiaan terbuka yang mengembangkan pendidikan dengan pendekatan holistik. Pendidikan tidak berhenti pada penguatan pengetahuan agama, tetapi juga diarahkan untuk membangun karakter, kemandirian, kepedulian sosial, keterampilan hidup, hingga kemampuan kewirausahaan santri.
Pendekatan tersebut menjadi menarik untuk dipelajari karena pendidikan ramah anak pada dasarnya tidak hanya berkaitan dengan penciptaan lingkungan yang aman dan nyaman bagi peserta didik, tetapi juga bagaimana lembaga pendidikan memberikan ruang tumbuh bagi anak sesuai potensi, kebutuhan, dan tahap perkembangannya.
Dalam konteks pesantren, nilai-nilai tersebut dapat dipadukan dengan pendidikan keagamaan yang menanamkan akhlak, tanggung jawab, penghargaan terhadap perbedaan, serta kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.
Kunjungan Kemenag Kota Yogyakarta juga diarahkan untuk menggali lebih jauh praktik ekoteologi, yakni bagaimana nilai-nilai keagamaan diterjemahkan menjadi kesadaran dan perilaku nyata dalam menjaga kelestarian alam. Lingkungan pesantren yang dirancang menyatu dengan alam menjadi salah satu praktik yang relevan untuk melihat bagaimana pendidikan agama dapat membangun kesadaran ekologis peserta didik.
Ekoteologi menjadi semakin penting dalam pendidikan keagamaan karena menjaga lingkungan bukan semata persoalan ekologis, tetapi juga bagian dari tanggung jawab moral manusia sebagai khalifah di muka bumi. Karena itu, pendidikan agama memiliki ruang strategis dalam membentuk generasi yang tidak hanya saleh secara personal, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan kehidupan dan lingkungan.
Di sisi lain, implementasi moderasi beragama menjadi bagian penting yang turut digali dalam kunjungan tersebut. Pendidikan di pesantren memiliki posisi strategis dalam menanamkan cara pandang keberagamaan yang moderat, menghargai perbedaan, menjunjung kemanusiaan, serta mampu hidup berdampingan secara harmonis di tengah masyarakat yang majemuk.
Melalui kunjungan ini, jajaran Kemenag Kota Yogyakarta diharapkan memperoleh perspektif baru mengenai pengelolaan lembaga pendidikan keagamaan yang mampu mengintegrasikan sejumlah dimensi sekaligus: penguatan keagamaan, perlindungan dan pemenuhan hak anak, kemandirian, kewirausahaan, kepedulian lingkungan, serta penguatan moderasi beragama.
Bagi Kemenag Kota Yogyakarta, praktik baik tersebut dapat menjadi bahan refleksi sekaligus inspirasi dalam memperkuat pembinaan madrasah dan pesantren di wilayah Kota Yogyakarta. Pembelajaran langsung dari lembaga yang telah mengembangkan model pendidikan berbasis alam dan kemanusiaan juga membuka ruang untuk melihat potensi adaptasi sesuai karakteristik dan kebutuhan satuan pendidikan masing-masing.
Kunjungan tersebut sekaligus menegaskan bahwa peningkatan kualitas pendidikan keagamaan membutuhkan proses belajar yang berkelanjutan. Tidak hanya melalui regulasi dan pembinaan dari sisi kelembagaan, tetapi juga melalui pertukaran pengalaman, praktik baik, dan inovasi antarlembaga.
Dengan semangat ngangsu kawruh, Kemenag Kota Yogyakarta berkomitmen terus membuka ruang pembelajaran dan kolaborasi untuk memastikan madrasah dan pesantren tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan dan keagamaan, tetapi juga menjadi ruang yang aman bagi anak, menumbuhkan karakter moderat, membangun kemandirian, serta menanamkan tanggung jawab terhadap lingkungan dan kemanusiaan.
Praktik pendidikan seperti yang dikembangkan Pondok Pesantren Selamat menunjukkan bahwa pesantren dapat menjadi ruang strategis untuk melahirkan generasi yang memiliki kedalaman spiritual sekaligus kecakapan hidup, kepedulian sosial, dan kesadaran ekologis. Nilai-nilai tersebut selaras dengan arah transformasi pendidikan keagamaan yang terus didorong Kementerian Agama.(Lis)


