Berita

Kakan Kemenag Ajak Pesantren Dukung Gerakan Mas Jos dan Ekoteologi

Yogyakarta (Humas) Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta, H. Ahmad Shidqi, S.Psi., M.Eng., mengajak pondok pesantren, Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (LPQ), dan Madrasah Diniyah Takmiliyah menjadi pelopor pengelolaan sampah sekaligus penguat citra positif pesantren di tengah masyarakat.

Hal tersebut disampaikan saat membuka kegiatan Optimalisasi Pengelolaan Sampah di Lingkungan Pondok Pesantren, Lembaga Pendidikan Al-Qur’an dan Madrasah Diniyah Takmiliyah yang diselenggarakan Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kankemenag Kota Yogyakarta bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta.

Kegiatan dilaksanakan di RM Kebun Ndelik Bausasran, Jalan Bausasran Nomor 52, Pakualaman, Kota Yogyakarta, dan berlangsung selama tiga hari, yakni Senin (18/5/2026) untuk pondok pesantren, Rabu (20/5/2026) bagi LPQ, serta Kamis (21/5/2026) untuk Madrasah Diniyah Takmiliyah.

Dalam sambutannya, Ahmad Shidqi menyampaikan apresiasi atas kehadiran seluruh peserta dan menegaskan bahwa kegiatan tersebut sejalan dengan program Pemerintah Kota Yogyakarta maupun program prioritas Kementerian Agama RI.

“Program pengelolaan sampah ini sejalan dengan program Kementerian Agama yaitu ekoteologi yang fokus pada kelestarian alam. Tentu kita juga mendukung program Pemerintah Kota Yogyakarta melalui gerakan Mas Jos agar Kota Yogyakarta menjadi kota yang nyaman seperti taglinenya,” ujarnya.

Menurut Shidqi, implementasi pelestarian lingkungan di Kota Yogyakarta memiliki karakteristik berbeda dibanding daerah lain. Keterbatasan lahan membuat upaya menjaga kelestarian alam tidak hanya diwujudkan melalui penghijauan atau penanaman pohon, namun juga melalui pengelolaan sampah yang baik dan berkelanjutan.

“Kalau di daerah lain implementasinya banyak melalui penanaman pohon dan pelestarian alam, maka di Kota Yogyakarta salah satu implementasinya adalah bagaimana kita mampu mengelola sampah dengan sebaik-baiknya,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa langkah kecil seperti memilah sampah merupakan bagian penting dalam menjaga lingkungan. Sampah yang dikelola dengan baik, menurutnya, dapat memberikan manfaat bagi kelestarian alam sekaligus mendukung terciptanya lingkungan kota yang sehat dan nyaman.

“Kita berharap masyarakat dapat mendukung program ini dengan menindaklanjuti program ekoteologi Kementerian Agama dan program Mas Jos dari Pemkot Yogyakarta. Manfaatnya tentu akan kembali kepada kita semua,” imbuhnya.

Shidqi juga menyampaikan bahwa Kementerian Agama Kota Yogyakarta mulai menerapkan budaya pengurangan sampah dalam berbagai kegiatan kedinasan. Salah satunya dengan mengurangi penggunaan snack box dan menggantinya menggunakan piring saji untuk meminimalkan sampah plastik.

“Ini bagian dari efisiensi sekaligus bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Kita mulai dari hal-hal kecil agar produksi sampah bisa diminimalkan,” katanya.

Ia berharap seluruh lembaga pendidikan keagamaan dapat merealisasikan program pengelolaan sampah di lingkungan masing-masing. Bahkan, pondok pesantren yang telah berhasil mengelola sampah secara mandiri diharapkan dapat berbagi praktik baik kepada pesantren lain.

“Pesantren yang sudah berhasil mengelola sampah dengan baik nanti bisa berbagi pengalaman di forum ini agar menjadi inspirasi bagi lembaga lainnya,” tandasnya.

Selain menyoroti persoalan lingkungan, Ahmad Shidqi juga menegaskan pentingnya menjaga citra positif pondok pesantren di tengah maraknya pemberitaan negatif.

Menurutnya, pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang memiliki peran besar dalam membentuk karakter bangsa. Pemerintah pun menunjukkan perhatian terhadap pesantren melalui penguatan kelembagaan pendidikan pesantren di bawah Kementerian Agama dengan hadirnya Direktorat Jendral  (Ditjen) Pesantren.

“Jumlah pesantren di Indonesia lebih dari 35 ribu. Ini menjadi tanggung jawab bersama untuk mencetak generasi yang lebih baik dan menjadikan Indonesia lebih maju,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pesantren harus mampu menghadirkan narasi positif di tengah masyarakat dan membuktikan bahwa pesantren merupakan tempat terbaik dalam membentuk generasi berakhlak dan unggul.

“Kita harus mampu meng-counter berita-berita negatif tentang pesantren dengan berita positif. Apa yang dilakukan di pesantren adalah untuk mendidik, bukan untuk kekerasan. Buktikan bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan terbaik dalam mencetak generasi yang berakhlak dan unggul,” tegasnya.

Sementara itu, Plh. Kasi PD Pontren Kankemenag Kota Yogyakarta, Hj. Elfa Tsuroyya, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari dukungan terhadap program Wali Kota Yogyakarta bertajuk “Mas Jos” (Masyarakat Jogja Olah Sampah) sekaligus implementasi inovasi PD Pontren bertajuk Sikopyah Putih (Santri Kota Peduli Sampah Mampu dan Terlatih).

“Rangkaian Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari bekerja sama dengan DLH Kota Yogyakarta. Untuk hari ini Kami mengundang seluruh pimpinan, pengasuh, dan pengurus pondok pesantren se-Kota Yogyakarta dengan jumlah peserta 42 orang,” jelasnya.

Elfa berharap implementasi pengelolaan sampah di lingkungan pesantren tidak berhenti pada tahap sosialisasi, namun benar-benar menjadi budaya dan dipantau keberlanjutannya oleh PD Pontren.

“Kami berharap implementasi dan tindak lanjutnya benar-benar berjalan di masing-masing lembaga sehingga pengelolaan sampah menjadi budaya bersama di lingkungan pesantren,” katanya.

Pada sesi materi, narasumber dari DLH Kota Yogyakarta, Tri Rahayu, ST, Rizki Dwi Gusmawanti, S.Tr.Kes., dan drh. SUPRIYANTO, M.VPH., memaparkan strategi pengelolaan sampah berbasis kewilayahan yang saat ini diterapkan Pemerintah Kota Yogyakarta.

DLH menjelaskan bahwa pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya melalui pemilahan sampah organik, anorganik, B3, dan residu. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos maupun pakan maggot, sedangkan sampah anorganik memiliki nilai ekonomi melalui bank sampah.

Peserta juga diperkenalkan dengan gerakan “Mas Jos” yang menekankan lima langkah utama, yakni memilah sampah sesuai jenis, menyalurkan sampah anorganik ke bank sampah, mengolah sampah organik, mengurangi sisa makanan, serta menggunakan wadah pakai ulang.

Selain itu, DLH memaparkan penguatan pengelolaan sampah berbasis wilayah melalui optimalisasi transporter sampah, penguatan bank sampah, serta penertiban pembuangan sampah liar agar volume sampah yang masuk depo dan tempat pembuangan akhir dapat ditekan.

kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi forum sosialisasi, tetapi juga menjadi langkah nyata membangun budaya sadar lingkungan di lembaga pendidikan keagamaan. Melalui sinergi antara Kementerian Agama, Pemerintah Kota Yogyakarta, dan Dinas Lingkungan Hidup, pondok pesantren, LPQ, dan Madrasah Diniyah Takmiliyah diharapkan mampu menjadi pelopor pengelolaan sampah berbasis edukasi dan keteladanan.

Semangat ekoteologi yang digaungkan Kementerian Agama RI pun diharapkan dapat terimplementasi secara konkret dalam kehidupan sehari-hari santri dan masyarakat pesantren, mulai dari memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik, hingga mengelola sampah secara mandiri dan berkelanjutan.

Dengan demikian, pesantren tidak hanya hadir sebagai pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial yang turut menjaga kelestarian lingkungan, memperkuat citra positif pesantren, serta menyiapkan generasi berakhlak dan peduli terhadap masa depan bumi menuju Indonesia Emas 2045. (Nis)