Kajian Ilmu Tajwid Episode – 1 : Mukadimah

Yogyakarta (Humas) Podcast kankemenag kota Yogyakarta selama bulan Ramadhan 1447 H dengan program Kajian Ilmu tajwid dengan narasumber Ustadz H. Charis Thohari Rohman, S.Th.I.,M.S.I, dan pembawa acara Iwan Rustiawan, S.Sos.I., dilaksanakan pada hari Kamis 19/02/2026 disiarkan secara live streaming youtub kemenag kota Yogyakarta dari studio podcast mulai pukul 08.30. WIB.
Charis Thohari Rohman menjelaskan tentang pentingnya mempelajari tajwid dalam interaksi dengan Alqur’an, dengan membaca qur’an dengan sebenar benarnya, kemudian mempelajarinya, serta mengamalkannya.
Al Baqoroh 121 : اَلَّذِيْنَ اٰتَيْنٰهُمُ الْكِتٰبَ يَتْلُوْنَهٗ حَقَّ تِلَاوَتِهٖۗ اُولٰۤىِٕكَ يُؤْمِنُوْنَ بِهٖۗ وَمَنْ يَّكْفُرْ بِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَࣖ
“Orang-orang yang telah Kami beri kitab suci, mereka membacanya sebagaimana mestinya, itulah orang-orang yang beriman padanya. Siapa yang ingkar padanya, merekalah orang-orang yang rugi”
وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًا
“…dan bacalah Al-Quran itu dengan perlahan-lahan (tartil).”
Tartil bermakna membaca dengan pelan, jelas hukum tajwidnya, dan tidak tergesa-gesa. Hal ini bertujuan agar pembaca dapat menghadirkan hati, memahami makna, serta merasakan keagungan ayat-ayat Allah. Membaca Al-Qur’an secara tartil artinya melafalkan ayat-ayat dengan perlahan, tidak tergesa-gesa, jelas makhraj (tempat keluar huruf) dan sifat hurufnya, serta sesuai kaidah tajwid. [Ara]



