Artikel

Guru: Tentang Kerja, Peran, dan Hubungan di Sekolah

Oleh : Lilis Ummi Fa’iezah, S.Pd., MA.

 

Masyarakat umumnya mengenal guru sebagai sosok yang hadir di kelas, mengajar dan mendidik generasi masa depan. Padahal, pekerjaan guru jauh lebih luas daripada gambaran seseorang yang berdiri di depan kelas, lalu dianggap selesai ketika bel pulang berbunyi. Dalam keseharian, banyak guru mengemban tanggung jawab tambahan sebagai wali kelas, terlibat dalam kepanitiaan, mengelola berbagai kegiatan sekolah, atau bahkan memegang jabatan struktural. Beragam peran ini menuntut kesiapan pikiran, energi, mental, dan waktu, sekaligus niat membentuk dinamika kerja yang kompleks di lingkungan sekolah.

Sekolah pada hakikatnya merupakan sebuah organisasi besar yang membutuhkan sumber daya manusia yang kompeten untuk mengelolanya. Pembagian peran bertujuan agar roda organisasi berjalan dengan baik dan layanan pendidikan tetap optimal. Setiap tugas memiliki fungsi dan nilai strategis. Ada guru yang kerap dipercaya mengerjakan banyak hal karena dianggap cakap dan dapat diandalkan, hingga tanpa disadari tugas utamanya sebagai pengajar menjadi kurang mendapatkan ruang yang memadai. Dalam praktiknya, menjaga keseimbangan antara tanggung jawab utama dan tambahan bukanlah perkara mudah. Ketika kondisi ini berlangsung lama tanpa pengelolaan yang bijak, akan muncul kelelahan yang sering kali diterima begitu saja sebagai bagian dari pengabdian.

Beban kerja yang menumpuk tidak jarang berdampak pada kualitas mengajar maupun hubungan antar guru. Proses mengajar berisiko berubah menjadi rutinitas semata, kehilangan makna reflektif yang seharusnya melekat pada profesi pendidik. Dalam relasi antar guru, perbedaan karakter, gaya komunikasi, dan cara memaknai tanggung jawab dapat memunculkan gesekan kecil. Meski tidak berujung konflik, sebagian gesekan berkembang menjadi jarak emosional. Dalam suasana seperti ini, memilih diam atau menjaga jarak sering dianggap lebih aman daripada membuka percakapan yang jujur. Akibatnya, persoalan tidak benar-benar terselesaikan, melainkan menjelma menjadi ketidaknyamanan yang berkepanjangan.

Profesionalisme guru kerap dimaknai sebagai kemampuan untuk tetap bekerja dengan baik apa pun kondisinya. Guru seolah dituntut meninggalkan persoalan pribadi di tempat parkir kendaraan dan menyandangnya kembali setelah jam pelajaran usai. Guru digambarkan sebagai sosok yang selalu tenang dan nyaris tak memiliki ruang untuk menunjukkan sisi emosionalnya. Padahal, profesionalisme juga mencakup cara bersikap dalam relasi kerja. Menjaga tutur kata, menghargai batas peran, serta menahan diri dari pembicaraan yang berpotensi merugikan rekan sejawat merupakan bagian dari etika profesi. Sikap asertif tanpa harus konfrontatif menjadi keterampilan penting agar guru dapat menyampaikan pandangan sekaligus menjaga hubungan kerja tetap sehat.

Sekolah sebagai organisasi memegang peran penting dalam merawat iklim kerja yang kondusif. Kepemimpinan yang terbuka dan adil membantu mencegah berbagai persoalan berkembang menjadi ketegangan yang menghambat tugas utama guru yaitu mengajar. Transparansi dan  tersedianya ruang dialog yang aman memberi pesan bahwa setiap guru dihargai sebagai bagian penting dari komunitas sekolah. Dari sisi guru, menahan diri dan selalu berkeyakinan bahwa setiap guru adalah pribadi yang komplek akan menghasilkan kemampuan untuk beradaptasi di segala situasi. Ketika guru bisa menahan diri, saling menghargai, maka rasa aman dan nyaman akan tumbuh secara alami di tempat kerja.

Pada akhirnya, guru harus menyadari bahwa mengajar, tanggung jawab tambahan, dan hubungan antar pribadi di lingkungan sekolah adalah hal yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Lingkungan kerja yang sehat bukan berarti tanpa perbedaan, melainkan hadirnya kesadaran untuk saling memahami dan menghormati. Dengan merawat relasi di antara para pendidik, sekolah tidak hanya menjadi tempat mengajar yang rutin, namun juga ruang kerja yang manusiawi, dinamis yang membantu guru bertumbuh secara profesional tanpa kehilangan semangat, dan makna pengabdian.

Leave a Reply