Berita

Ecoteologi KUA Umbulharjo, Wujudkan Ketahanan Pangan Menuju Gemah Ripah Loh Jinawi

Yogyakarta —Kamis 10 september 2026 -Kantor Urusan Agama (KUA) Umbulharjo terus mengembangkan gerakan ecoteologi sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekaligus upaya membangun ketahanan pangan di lingkungan perkantoran.

Bertempat di lingkungan KUA Umbulharjo, Penyuluh Agama Islam Triantoro, S.T. menginisiasi penanaman berbagai tanaman pangan dan sayuran. Setelah kurang lebih 45 hari masa tanam, pada 9 September 2026 dilaksanakan panen perdana.

Berbagai hasil tanaman yang dipanen antara lain terong unggul, terong lalap, lombok, daun mint, seledri, pare, dan mentimun. Hasil panen tersebut kemudian dimanfaatkan untuk kegiatan lalapan bersama di kantor KUA Umbulharjo, sehingga hasil dari lingkungan kantor dapat langsung dirasakan dan dinikmati bersama.

Selain tanaman pangan, Ustaz Munasir turut menambah tanaman bunga telang sebagai bagian dari pengembangan tanaman herbal. Bunga telang nantinya dapat dimanfaatkan sebagai bahan minuman herbal yang sehat sekaligus bernilai edukatif bagi keluarga dan masyarakat.

Gerakan ini menjadi bagian dari semangat ecoteologi yang memandang bahwa menjaga alam bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.

Filosofi Jawa “Gemah Ripah Loh Jinawi” menjadi semangat yang relevan dalam gerakan tersebut. Kemakmuran tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar, tetapi dapat tumbuh dari sepetak tanah yang ditanami, dirawat, kemudian menghasilkan manfaat bagi banyak orang.

Dari menanam lahir kepedulian, dari merawat tumbuh kesabaran, dan dari memanen hadir rasa syukur. Inilah nilai ecoteologi yang ingin dibangun di KUA Umbulharjo: kantor tidak hanya menjadi tempat bekerja dan melayani masyarakat, tetapi juga menjadi ruang edukasi untuk mencintai lingkungan dan membangun ketahanan pangan.

Melalui gerakan sederhana tersebut, KUA Umbulharjo berharap budaya menanam dapat terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk memanfaatkan lingkungan secara produktif, sehat, dan berkelanjutan.

“Sak wiji ditandur, sak tetuwuhan dirumat, muga dadi berkah tumraping bebrayan.”
Setiap benih yang ditanam dan setiap tanaman yang dirawat, semoga menjadi keberkahan bagi kehidupan bersama.(khaer)

Leave a Reply