Doa yang Mengubah Hidup! Penyuluh Katolik Kemenag Yogyakarta Tekankan Makna Doa Bapa Kami

Yogyakarta (Garakat) – Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta, Edelbertus Jara, melaksanakan pembinaan iman bagi staf dan pegawai Swalayan Manna Kampus yang berlokasi di Jl. C. Simanjuntak No.70, Terban, Gondokusuman, Yogyakarta, pada Kamis (18/6/2026).
Kegiatan pembinaan iman tersebut dikemas dalam bentuk Ibadat Sabda dengan bacaan Kitab Suci dari Injil Matius 6:7–15. Dalam permenungan Firman Tuhan, Yesus menegaskan bahwa dalam berdoa bukan tentang banyaknya kata-kata, melainkan sikap hati yang rendah hati dan terbuka untuk menerima kehendak Allah. Bahkan, sebelum manusia memohon, Allah telah mengetahui apa yang dibutuhkan umat-Nya.
Yesus kemudian mengajarkan Doa Bapa Kami sebagai pedoman doa bagi para murid-Nya.
Dalam refleksinya, Edelbertus Jara menyampaikan lima poin penting yang terkandung dalam Doa Bapa Kami, yaitu:
- Mengutamakan Allah
“Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga” (Mat 6:9–10). Doa mengajak umat untuk menempatkan kehendak Tuhan di atas keinginan pribadi. - Percaya pada penyelenggaraan Ilahi
“Berikanlah kami pada hari ini rezeki yang secukupnya” (Mat 6:11). Umat diajak hidup dalam kepercayaan bahwa Tuhan senantiasa mencukupi kebutuhan sehari-hari. - Memohon pengampunan dan belajar mengampuni
“Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Mat 6:12). Pengampunan dari Tuhan mendorong umat untuk mengampuni sesama. - Memohon kekuatan menghadapi pencobaan
“Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari yang jahat” (Mat 6:13). Umat membutuhkan pertolongan Tuhan agar tetap setia dan tidak jatuh dalam dosa. - Segala kemuliaan hanya bagi Allah
“Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin” (Mat 6:13b). Seluruh kemuliaan hanya bagi Allah selama-lamanya.
Edelbertus menegaskan bahwa doa yang berkenan kepada Tuhan lahir dari hati yang tulus, penuh kepercayaan kepada Bapa, serta disertai kerelaan untuk mengampuni sesama. Ia juga menambahkan bahwa hubungan yang baik dengan Tuhan harus tercermin dalam relasi yang baik dengan sesama manusia.
Kegiatan diakhiri dengan foto bersama antara penyuluh dan delapan peserta pembinaan iman, kemudian seluruh peserta kembali ke unit kerja masing-masing. (ej)



