Berita

Doa dan Zikir Jadi “Kokpit Spiritual” bagi Calon Komandan dan Penerbang Tempur

YOGYAKARTA – Profesi penerbang pesawat tempur (fighter pilot) dan calon komandan skuadron militer dikenal sebagai salah satu pekerjaan dengan tingkat tekanan tertinggi di dunia. Menghadapi kecepatan supersonik, gaya gravitasi ekstrem, serta tanggung jawab taktis atas keselamatan personel dan kedaulatan negara menuntut kesiapan mental yang luar biasa.

Menanggapi tantangan tersebut, Penghulu KUA Mantrijeron, Mu’inan, S.H.I., M.S.I., menegaskan bahwa doa dan zikir bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan instrumen penting dalam membangun ketangguhan mental para penerbang dan calon komandan. Hal itu disampaikannya saat memberikan kajian pada kegiatan Subuh Berjamaah dan Apel Pagi di Masjid Al-Hadi Wirambara Blok F, Yogyakarta, Ahad (14/6/2026).

Di hadapan prajurit TNI Wirambara, Mu’inan menjelaskan bahwa doa dan zikir memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas psikologis seorang penerbang tempur. Menurutnya, di tengah situasi yang menuntut pengambilan keputusan dalam hitungan detik, zikir dapat menjadi sarana untuk menciptakan ketenangan batin.

“Zikir menciptakan titik hening di dalam kokpit. Ketika kondisi terasa kacau, zikir membantu menstabilkan pikiran sehingga penerbang tetap mampu membaca instrumen dan mengambil keputusan secara tepat,” ujarnya sambil mengutip firman Allah dalam Surat Ar-Ra’d ayat 28 tentang ketenteraman hati melalui zikir kepada Allah.

Mu’inan juga menyoroti dua tantangan besar yang kerap dihadapi penerbang dan perwira militer, yakni disorientasi ruang serta ego kepemimpinan. Dalam kondisi cuaca buruk atau penerbangan malam hari, doa menjadi jangkar spiritual yang membantu seseorang tetap berpijak pada kebenaran dan objektivitas.

“Bagi seorang calon komandan, doa juga berfungsi menumbuhkan kerendahan hati. Keselamatan dan keberhasilan bukan semata hasil kemampuan manusia atau kecanggihan teknologi, tetapi atas izin Allah SWT,” katanya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa doa dan zikir mampu mentransformasi seorang penerbang dari sekadar operator mesin tempur menjadi sosok yang menjalankan tugas sebagai bentuk pengabdian dan ibadah. Kesadaran spiritual tersebut, menurutnya, melahirkan keberanian yang disertai keikhlasan dan tanggung jawab moral yang tinggi.

“Ketika tugas dipandang sebagai ibadah dalam menjaga kedaulatan bangsa, maka rasa takut dapat berubah menjadi keikhlasan, dan keikhlasan itu melahirkan keberanian yang luar biasa,” ungkapnya.

Pada akhir kajian, Mu’inan mengingatkan pentingnya membangun kebiasaan berdoa sejak masa-masa tenang, sebagaimana hadis riwayat Tirmidzi yang menyebutkan bahwa orang yang ingin doanya dikabulkan saat menghadapi kesulitan hendaknya memperbanyak doa ketika berada dalam kondisi lapang.

Ia menegaskan bahwa jika simulator dan latihan taktis berfungsi melatih kemampuan fisik serta kognitif seorang penerbang, maka doa dan zikir merupakan sistem kemudi bagi jiwa. Perpaduan keduanya diyakini dapat melahirkan pemimpin penerbang yang tangguh, profesional, sekaligus memiliki kedalaman spiritual.

“Pemimpin yang mampu menembus batas kecepatan suara di langit, tetapi tetap rendah hati dan tunduk kepada Tuhan di bumi,” pungkasnya.(m.uin.@n)