Artikel

Dari Kertas Kosong ke Blog Kelas: Cara Seru Mengajarkan Menulis Bahasa Inggris

Bagi sebagian murid, menulis dalam Bahasa Inggris sering kali terasa menegangkan. Tak jarang, kegiatan ini dianggap rumit, membosankan, dan penuh tekanan. Namun, pengalaman berbeda dirasakan oleh murid kelas XI MAN 1 Yogyakarta pada akhir Semester 1 lalu. Melalui pembelajaran Analytical Exposition bertema Healthy Life for a Healthy Future, menulis justru berubah menjadi aktivitas yang menantang sekaligus menyenangkan.

Pembelajaran ini dirancang dengan pendekatan berbasis proyek. Murid diajak menulis teks Analytical Exposition yang tidak berhenti di buku tulis atau lembar ujian, tetapi dipublikasikan dalam blog kelas masing-masing. Sejak awal, guru Bahasa Inggris mereka, Deti Prasetyaningrum, yang akrab disapa Ma’am Deti, ingin menghadirkan pengalaman belajar yang nyata dan relevan dengan dunia murid.

Untuk memulai, murid dibagi secara acak ke dalam beberapa topik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti Healthy Foods, Healthy Beverages, Healthy Habits, Healthy Hobbies, Sports, Healthy Environment, hingga Mental Health. Topik-topik ini membuka ruang diskusi sekaligus memancing rasa ingin tahu murid. Mereka tidak hanya diminta menulis, tetapi juga memahami isu kesehatan dari berbagai sudut pandang.

Proses belajar pun dibuat fleksibel. Murid diberi kesempatan untuk melakukan brainstorming ide dengan menggali informasi dari buku, jurnal, internet, bahkan kecerdasan buatan atau AI. Pada tahap ini, AI diposisikan sebagai “teman diskusi” untuk mencari dan mengembangkan ide. Draf awal ditulis di buku tulis, memberi ruang bagi murid untuk menyusun gagasan tanpa takut salah.

Namun, tantangan sesungguhnya datang pada pertemuan berikutnya. Sang guru membagikan selembar kertas kosong dan meminta murid menuliskan teks mereka tanpa bantuan gawai apa pun. Tidak ada Google, tidak ada AI, hanya ide dan kemampuan Bahasa Inggris mereka sendiri. Dari sinilah terlihat jelas bahwa teknologi memang membantu, tetapi tidak bisa menggantikan penguasaan kosakata dan kemampuan menulis yang sesungguhnya.

Setelah tulisan selesai, guru mereview hasil kerja murid satu per satu. Perbaikan dilakukan sebelum tulisan diketik ulang ke Google Docs dan dikirimkan ke editor kelas serta admin blog untuk dipublikasikan. Ketika tulisan mereka akhirnya muncul di blog kelas, rasa bangga pun tak terhindarkan. Karya mereka kini punya pembaca, bukan sekadar dinilai guru.

Dari kegiatan ini, murid merasakan tantangan baru dalam belajar Bahasa Inggris. Menulis tidak lagi sekadar tugas, melainkan proses berpikir dan berekspresi. Mereka juga mulai memahami batas penggunaan AI. AI boleh membantu mencari ide, tetapi saat berhadapan dengan kertas kosong, kemampuan diri sendirilah yang berbicara. Semakin kaya kosakata yang dimiliki, semakin kuat pula tulisan yang dihasilkan.

“Harapan saya sederhana,” ujar Ma’am Deti. “Murid menyadari bahwa AI hanyalah alat bantu. Pemain utamanya tetap mereka sendiri. Penguasaan kosakata dan keberanian menulis adalah kunci.”

Apresiasi terhadap pembelajaran ini juga datang dari Kepala MAN 1 Yogyakarta, Edi Triyanto, S.Ag., S.Pd., M.Pd. Menurutnya, pembelajaran yang menggabungkan literasi, karakter, dan teknologi merupakan jawaban atas tantangan pendidikan masa kini. Murid tidak hanya dilatih secara akademik, tetapi juga diajak belajar jujur, mandiri, dan bertanggung jawab dalam berkarya.

Melalui praktik ini, pembelajaran Bahasa Inggris menemukan wajah barunya. Menulis bukan lagi momok, melainkan jembatan untuk berpikir kritis, berbagi gagasan, dan mempersiapkan murid menghadapi masa depan. Karena pada akhirnya, belajar bahasa bukan hanya soal kata dan kalimat, tetapi tentang bagaimana murid menyuarakan pikirannya kepada dunia. (dee)

Leave a Reply