Artikel

Murid MAN 1 Yogyakarta Asah Kemampuan Analytical Exposition Lewat Speaking Berbasis AI

Yogyakarta (MAN 1 Yogyakarta) – Kelas XB MAN 1 Yogyakarta melaksanakan pembelajaran Bahasa Inggris inovatif dengan memadukan teks analytical exposition dan praktik speaking menggunakan fitur AI seperti ChatGPT Voice. Kegiatan ini berlangsung di ruang kelas pada jam pelajaran ke-5 dan ke-6, pukul 10.20 – 11.40 WIB, Senin (19/01/2025), dengan fokus pada penguatan keterampilan berbicara murid di era digital.

Pembelajaran dirancang untuk menjawab tantangan generasi digital yang cenderung kurang terasah kemampuan komunikasinya secara lisan. Melalui dialog interaktif dengan AI voice, murid didorong untuk berani menyampaikan pendapat, mengembangkan argumen, serta merefleksikan sikap terhadap isu aktual, dalam hal ini, topik graffiti.

Kegiatan melatih speaking berbasis AI Voice menargetkan capaian kompetensi yang terukur, seperti memahami pengertian dan tujuan teks analytical exposition, mengidentifikasi struktur teks (thesis – arguments – reiteration), mengidentifikasi ciri kebahasaan sederhana dan menyimpulkan sikap penulis terhadap isu graffiti saat ini.

Guru bahasa Inggris kelas XB Lilis Ummi Fa’iezah, MA mengatakan bahwa kemampuan speaking adalah keterampilan mutlak bagi anak-anak zaman now. Melalui praktik dialog yang baik dan interaktif, murid berlatih menyampaikan ide tanpa takut salah, lalu menerima umpan balik yang sopan dan membangun dari AI voice. “Dengan AI, anak-anak dapat belajar berbicara tanpa rasa malu dan khawatir ada orang yang mentertawakan performance mereka,” ujar Lilis.

Untuk membantu murid memulai berdialog dengan AI voice, guru membantu membuatkan promt sederhana. Yang pertama adalah prompt untuk tugas individu.“OK, well, please help me to practice my analytical exposition. Ask me my opinion about gravity slowly because I am a beginner. Then ask me as well to give two reasons or you may give me questions about that, so I can explain that using my English. Correct my sentences politely after I finish speaking.” Harapannya, dengan bantuan promt dari guru murid dengan mudah untuk memulai berlatih berlatih berbicara secara individu dengan AI voice.

Promt yang kedua digunakan untuk tugas kelompok 2 sampai 3 murid yang berbunyi

“Please help me practice analytical exposition. Here, my friend and I will talk to you about graffiti. Help us to construct good dialog.” Para murid diperbolehkan untuk menggunakan prompt yang mereka buat sendiri sesuai keinginan mereka agar hasilnya lebih bagus. Dalam percakapan tersebut, murid diminta untuk menyampaikan opini, mengembangkan alasan, dan menerima koreksi kebahasaan secara santun setelah sesi berbicara selesai.

Sebagai tindak lanjut, seluruh, murid mengumpulkan transkrip percakapan untuk dianalisis. Analisis difokuskan pada ketepatan struktur analytical exposition, kejelasan argumen, serta penggunaan ciri kebahasaan yang relevan. “Pendekatan ini membuat Murid lebih aktif dan reflektif. Mereka tidak hanya berbicara, tetapi juga belajar menilai kualitas argumen dan bahasa mereka sendiri,” tambah Lilis.

Kegiatan ini diharapkan menjadi model pembelajaran Bahasa Inggris yang adaptif terhadap teknologi, sekaligus efektif dalam menumbuhkan kepercayaan diri dan kecakapan berbicara murid. (luf)

Leave a Reply