Pembekalan Pembuatan Karya Tulis dan Video Program Kokurikuler MAN 1 Yogyakarta

Yogyakarta (MAN 1 Yogya) – Program kokurikuler kelas XI diisi dengan kegiatan pembekalan pembuatan karya tulis dan video. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Utama Lantai 2 dan diikuti oleh seluruh murid kelas XI dan beberapa guru pembimbing, Jumat, (09/01/2026). Selain sebagai penunjang pembelajaran kokurikuler, kegiatan ini sekaligus membekali murid kelas XI yang akan membuat tugas kelompok berupa pembuatan karya tulis dan video pada saat kunjungan budaya ke obyek budaya di Bali maupun di Yogyakarta.
Pembekalan menghadirkan Slamat Trisila, seorang penulis produktif yang telah lama tinggal di Bali dan memahami seluk-beluk budaya Pulau Dewata. Slamat saat ini mengelola Penerbit Pustaka Larasati yang telah menerbitkan sekitar 1.000 judul buku, khususnya di bidang budaya dan sastra. Kehadiran Slamat sangat relevan dengan kebutuhan murid saat ini yaitu membuat karya tulis dan video terkait kunjungan budaya ke beberapa tempat budaya di Bali dan Yogyakarta.
Kegiatan diawali dengan sambutan Kepala MAN 1 Yogyakarta Edi Triyanto, S. Ag., S. Pd., M. Pd. yang menegaskan bahwa program kokurikuler ini dirancang untuk membekali murid dengan keterampilan berpikir kritis, literasi, dan kepekaan budaya. Edi berharap para murid tidak hanya menjadi penikmat perjalanan studi budaya ke Bali, tetapi juga mampu merekam, mengolah, dan menyajikan pengalaman tersebut dalam bentuk karya tulis dan video yang berkualitas. “Kemampuan mengamati dan menuliskan hasil pengamatan merupakan bekal penting bagi murid untuk melanjutkan pendidikan maupun menghadapi tantangan masa depan,” terang Edi.

Selanjutnya Slamat memaparkan tentang pentingnya menulis bagi kalangan muda. Menurutnya, menulis merupakan bentuk eksistensi diri yang sangat bermakna untuk memperkenalkan siapa diri kita kepada orang lain. Slamat juga menjelaskan bahwa kemampuan menulis dapat menjadi nilai tambah yang kuat bagi seseorang, bahkan dapat digunakan sebagai bagian dari curriculum vitae ketika mengajukan beasiswa, melanjutkan studi, maupun memasuki dunia kerja.
Lebih lanjut, terkait kegiatan studi budaya, Slamat memaparkan tentang berbagai objek studi budaya yang dapat dipilih sebagai bahan tulisan dan video. Slamat mencontohkan obyek studi budaya di Bali, sedang bagi murid yang melaksanakan studi budaya di Yogyakarta bisa menyesuaikan. Slamat mengajak para murid untuk melihat Bali tidak hanya dari sisi pariwisata, tetapi juga dari kekayaan sejarah dan keberagaman budayanya. Dalam pemaparannya, Slamat menyinggung bahwa Pulau Bali tidak terlalu tersentuh oleh budaya Islam, namun tetap menyimpan jejak sejarah berupa beberapa masjid kuno yang kini menjadi cagar budaya.
Melalui pembekalan ini, diharapkan murid kelas XI memiliki pemahaman awal yang kuat tentang cara mengumpulkan data, memilih objek kajian, serta menuangkan hasil pengamatan mereka ke dalam karya tulis dan video yang bermakna serta bernilai literasi budaya.(luf)


