GPAI Jadi Garda Depan Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta

Yogyakarta (Kemeng Kota Yogyakarta)–Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta, H. Ahmad Shidqi, menegaskan bahwa Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) harus menjadi garda depan dalam mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di satuan pendidikan. Hal tersebut disampaikannya saat membuka Pelatihan Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) bagi Guru Pendidikan Agama Islam Tahun 2026 di Aula 1 Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta, Jumat (26/6/2026).
Menurut Ahmad Shidqi, Kurikulum Berbasis Cinta merupakan ikhtiar Kementerian Agama dalam membangun generasi yang humanis, toleran, dan berakhlak mulia. Karena itu, peran GPAI tidak hanya menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga menanamkan nilai-nilai cinta dalam setiap proses pendidikan.

“Kurikulum Berbasis Cinta harus diimplementasikan secara nyata oleh GPAI. Tujuannya membentuk peserta didik yang memiliki karakter kuat melalui lima nilai utama, yakni cinta kepada Tuhan Yang Maha Esa, cinta kepada diri dan sesama, cinta kepada ilmu pengetahuan, cinta kepada lingkungan, serta cinta kepada bangsa dan negara,” tegasnya.
Ia menambahkan, implementasi kelima nilai tersebut diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran agama yang lebih membumi, membangun empati, memperkuat moderasi beragama, meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, sekaligus menumbuhkan semangat kebangsaan di kalangan peserta didik.
Dalam sesi materi narasumber Kepala Pusat Pengembangan Kompetensi SDM Kementerian Agama Republik Indonesia Dr. Wati Solihat Sukmawati, S. S., M. Pd menjelaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta selaras dan saling melengkapi dengan pendekatan Deep Learning yang telah diterapkan di lingkungan Dinas Pendidikan. Pembelajaran tidak berhenti pada aspek pengetahuan, tetapi juga menekankan pemahaman yang utuh serta praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, materi wudu tidak hanya mengajarkan tata caranya, tetapi juga pemahaman mengenai syarat, rukun, hingga pentingnya kebersihan pakaian sebagai bagian dari kesucian.
Pelatihan berlangsung interaktif melalui berbagai metode pembelajaran yang menyenangkan, seperti bernyanyi, gerak tubuh, permainan edukatif, serta praktik pembelajaran aktif yang dapat diterapkan guru di kelas. Peserta juga diajak memahami bahwa konsep bersuci tidak hanya dimaknai sebagai kebersihan fisik, tetapi juga sebagai upaya menyucikan hati agar terhindar dari perbuatan keji dan mungkar.
Melalui pelatihan ini, diharapkan para GPAI mampu mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Cinta secara kreatif dan kontekstual sehingga pembelajaran Pendidikan Agama Islam semakin bermakna serta melahirkan generasi yang religius, berkarakter, dan berkontribusi positif bagi bangsa. (Tutik)


