Penyuluh Agama KUA Kraton Gelar Program “Berantas Buta Huruf Al-Qur’an” di MT Sapujagad Rotowijayan

Yogyakarta (KUA Kraton) — Dalam upaya meningkatkan literasi baca tulis Al-Qur’an di lingkungan wilayah budaya, Penyuluh Agama Islam Kemantren Kraton menyelenggarakan kegiatan “Berantas Buta Huruf Al-Qur’an” yang bertempat di Majelis Taklim (MT) Sapujagad, kawasan Rotowijayan, Yogyakarta.
Kegiatan ini menarik perhatian karena diikuti oleh lintas kalangan, mulai dari warga sekitar Masjid Rotowijayan, jamaah rutin masjid, hingga para Abdi Dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Suasana kegiatan tampak khidmat dan penuh semangat saat para peserta mengikuti bimbingan membaca Al-Qur’an dengan penuh kesungguhan.
Program ini dirancang untuk memfasilitasi masyarakat yang ingin belajar Al-Qur’an dari dasar maupun yang ingin memperlancar bacaan sesuai kaidah tajwid. Para peserta, termasuk Abdi Dalem dengan busana khasnya, tampak antusias mengikuti pembelajaran yang dipandu oleh para penyuluh.
Penyuluh Agama Islam Kraton, Umi Kultsum, S.H., menyampaikan bahwa program ini merupakan bagian dari misi besar untuk memastikan tidak ada lagi umat Muslim di wilayah Kraton yang buta aksara hijaiyah.
“Kami tidak hanya mengajarkan cara membaca, tetapi juga menumbuhkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Kehadiran para Abdi Dalem dan warga menunjukkan bahwa semangat belajar tidak mengenal usia maupun status sosial,” ujar Umi Kultsum.
Mengingat peserta berasal dari berbagai rentang usia, metode pembelajaran dilakukan secara persuasif, sabar, dan bertahap, mulai dari pengenalan huruf hijaiyah (makhorijul huruf) hingga praktik membaca ayat-ayat pendek.
Takmir Masjid Rotowijayan, Dwi Pariyono, memberikan apresiasi terhadap kegiatan ini. Menurutnya, lokasi yang berada di kawasan strategis dekat Keraton Yogyakarta menjadikan program ini efektif dalam menjangkau masyarakat yang sebelumnya masih sungkan untuk belajar secara terbuka.
Kegiatan rutin ini diharapkan dapat terus berlanjut hingga seluruh peserta mampu membaca Al-Qur’an dengan tartil, sekaligus mewujudkan lingkungan masyarakat yang Qur’ani di pusat kebudayaan Yogyakarta. (AKI)



