Berita

Penyuluh KUA Wirobrajan Perkuat Makna Syawal Melalui Program “Camar”

Yogyakarta (KUA Wirobrajan) – Kantor Urusan Agama (KUA) Wirobrajan terus menunjukkan eksistensinya dalam memberikan dampak positif bagi spiritualitas masyarakat. Pada Rabu (15/04/2026), program unggulan Camar (Cahaya Mimbar) kembali hadir mengisi ruang syiar di Masjid Kalimasada Patangpuluhan.

Hadir sebagai pembicara dalam kultum bakda Zuhur, Agus Saeful Bahri, S.Ag., M.S.I., selaku Penyuluh Agama Islam KUA Wirobrajan, mengulas makna dan filosofi bulan Syawal yang tengah dijalani umat Islam.

Dalam pemaparannya, Agus menjelaskan bahwa secara bahasa, Syawal bermakna peningkatan. Ia menguraikan tinjauan historis-antropologis bahwa pada masa lampau, bulan ini ditandai dengan meningkatnya jumlah penduduk di Makkah seiring kedatangan calon jemaah haji yang bersiap menuju bulan Zulhijah.

Namun, seiring berkembangnya dakwah Rasulullah saw., makna tersebut bertransformasi menjadi lebih filosofis.

“Syawal adalah bulan peningkatan kedekatan hamba kepada Allah Swt. Ukuran keberhasilannya sederhana, yaitu apakah kualitas ibadah saat ini lebih baik dibandingkan sebelum Ramadan. Jika terjaga dan meningkat, itulah esensi Syawal yang sebenarnya,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengutip pendapat ahli bahasa, Ibnu Manzur, dalam kitab Lisan al-Arab mengenai makna Idulfitri sebagai pembuka bulan Syawal. Menurutnya, Idulfitri bukan sekadar perayaan kemenangan, melainkan momentum untuk kembali mengenal Allah (ma’rifatullah).

Ia juga menambahkan bahwa kondisi tersebut diperoleh melalui ibadah puasa yang mengajarkan pengendalian diri (al-imsak) dari berbagai bentuk hawa nafsu dan sikap berlebih-lebihan (israf) selama Ramadan. Oleh karena itu, pada bulan Syawal diharapkan tingkat ketakwaan meningkat dan kecenderungan pada keburukan semakin menurun.

Melalui program Camar ini, KUA Wirobrajan berharap masyarakat tidak hanya merayakan Syawal secara seremonial, tetapi juga mampu menginternalisasi nilai-nilai peningkatan diri dalam kehidupan sehari-hari.[ekoAW]